Yoga For Couple, Sehat Fisik dengan Chemistry

Kompas.com - 23/02/2010, 12:57 WIB

KOMPAS.com - Pagi di akhir pekan, Darmawangsa Square The City Walk Jakarta, layaknya sebuah pusat belanja, masih sepi pengunjung. Namun begitu The Occasion dibuka, belasan orang tampak ramai memasuki hall di lantai 3 tersebut.

Suasana yang berbeda dari rutinitas pekerjaan coba ditawarkan dalam rangkaian kegiatan kesehatan pada Sabtu (20/2/2010) lalu itu. Inilah yang dicari sejumlah pasangan yang mulai berdatangan sejak pukul 08.00. Tak hanya suami-istri, pasangan seperti kakak-adik, ibu-anak, bahkan sepasang teman yang kebanyakan perempuan mulai berganti kostum olahraga.

Matras sudah disiapkan, trainer dari Fitness First pun mulai bersiap dengan pemanasan konsep gerakan yoga yang misinya untuk harmonisasi hubungan.

Rangkaian kegiatan yang diadakan majalah Prevention Indonesia bekerjasama dengan komunitas Life begins@40 ini memang bersifat holistik. Aktivitas berpasangan ini berfokus pada kesehatan tubuh dan pikiran melalui gerakan yoga selama satu jam lamanya. Usai itu dilanjutkan demo makanan sehat oleh My Choice. Stan makanan sehat dan bernutrisi ini juga turut mendukung kegiatan yang mengajak pasangan menerapkan pola makan yang sehat.

Setelah perut kenyang, peserta masih diajak untuk mengikuti talkshow bertema healthy relationship bersama Erikar Lebang, dewan penasehat Prevention Indonesia yang juga pengajar yoga di Jakarta Do Yoga dan Anahata Wellness.

Dalam sesi yoga berpasangan, Fitness First memilih tiga pasangan pemenang yang dianggap paling kompak dan paling mampu menerapkan gerakan yoga dengan maksimal. Anastasia Ferwidyasari (25) bersama sang suami, Blasius Suseno Ardi (31), terpilih menjadi satu dari the best couples.

Meski mengaku sedikit kesulitan, pasangan yang sudah tiga tahun menikah ini mengaku masih bisa mempelajari setiap gerakan yoga yang diinstruksikan pelatih. Padahal, ini untuk pertamakalinya mereka melakukan yoga.

"Sulit, tapi bisa dipelajari, dan fun. Banyak gerakan yang akhirnya membantu untuk mengenal kemampuan diri. Jadi ingin coba melakukan lagi di rumah," aku Ardi.

Pasangan ini punya kesan, gerakan yoga berpasangan ini menguras tenaga, namun cocok dari segi usia mereka. Efek yang paling mengena di antaranya santai, tenang, dan menciptakan chemistry di antara pasangan.

"Gerakan yoga yang dilakukan berpasangan butuh kerjasama. Istri mesti mengenal kondisi suami, tenaga mesti balance, saling dorong juga saling menahan, artinya bisa belajar memahami," papar Anastasia.

Olahraga yang kesannya feminin ini diakui keduanya membutuhkan gerakan maskulin yang fokus pada kekuatan otot. Jika salah memahami pasangan, gerakan yoga ini malah bisa menjadi penyebab pertengkaran. Maklum, gerakannya memang membutuhkan pengertian dari keduabelah pihak.

Jika salah satu memaksakan gerakan, sedangkan pasangan tak memiliki kelenturan atau kemampuan yang sama, akhirnya bisa saja cekcok. Padahal tujuan dari yoga berpasangan adalah menumbuhkan gerakan harmonisasi dengan alunan musik dan suasana yang menenangkan. Hasil akhir yang diinginkan adalah pasangan bisa sehat secara fisik, dan hubungan semakin harmonis.

Pilihan kegiatan akhir pekan yang menyenangkan, sehat dan berkualitas untuk pasangan bukan?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau